Selasa, 27 Desember 2011
Kamis, 15 Desember 2011
Domain co.cc Kembali Terindex Google
Rabu, 27 Juli 2011
Manusia Penghuni Kutub Punya Otak Lebih Besar
Minggu, 19 Juni 2011
Ayah Juga Lupa
Dengar, Nak: Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap dibawah pipmu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembap.
Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu.
Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.
Ada hal-hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah slama ini bersikap kasar kepadamu.
Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu.
Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.
Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan.
Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu -buru makananmu. Kau meletakkan sikumu diatas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, "Selamat jalan ayah!" dan ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, "Tegakkan bahumu!"
Kemudain semua itu berulang lagi pada sore hari.
Begitu ayah muncul dari jalan, ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu.
Ayah menghinamu didepan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah.
Kaus kaki mahal - dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu ke;uar dari pikiran seorang ayah!
Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar karena gangguanmu, kau jadi ragu-ragu didepan pintu. "Kau mau apa?" semprot Ayah.
Kau tidak berkata sepatah pun, malainkan berlari melintas melompat kearah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher Ayah dan mencium Ayah, tangan tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar dihatimu dan yang bahkan pengabaian sekalipun tidak akan mampu melemahkannya.
Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.
Nah, Nak, sesaat setelah koran itu jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa takut yang menyakitkan menerpa Ayah.
Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca - ini adalah hadiah Ayah untukmu senbagai seorang anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu; Ayah melakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda.
Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun-tahun Ayah sendiri.
Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu.
Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit bukit luas.
Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat aku menghambur masuk dan mencium ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pambaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut disana, dengan rasa malu!.
Ini adalah sebuah tobat yang lemah; Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan hal ini saat kau terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi Ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata-kata tidak sabar keluar dari mulut Ayah.
Ayah akan terus mengucapkannya kata ini seolah-olah sebuah ritual: "Dia cuma seorang anak kecil - anak lelaki kecil..! "
Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki.
Namun saat Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk barbaring dan letih dalam tempat tidurmu, Ayah lihat kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.
(W. Livingstone Larned)
Sabtu, 19 Februari 2011
Dollar dari Microworkers
Yang unik dari bisnis ini jika kita mau WD pertama kali harus menggunakan PIN yang akan di kirim ke alamat yang kita masukkan waktu pertama mendaftar. Jadi buat yang mau daftar di sarankan mengisikan alamat yang benar karena kalau tidak akan sia-sia saja usaha kita selama ini. Bulan kemarin saya juga udah mencoba untuk request PIN untuk WD ternyata setelah menunggu selama 21 hari datang juga PIN nya langsung saja saya masukan PIN yang udah dikirimkan...akhirnya 3 hari kemudian uang udah masuk ke Paypal. Memang nggak banyak tapi lumayanlah bisa buat memperpanjang domain shenau.info yang akan expired tanggal 28 bulan ini.
Kembali Ngeblog
Senin, 24 Januari 2011
Antara Tiga Urusan
Tak mudah membawa anak-anak saya untuk sekadar menengok kebun kecil kami dan mengamati tumbuh-tumbuhan yang saya tanam. Ada saja alasan mereka untuk mengelak dan jikapun mereka mau selalu ada unsur terpaksa. Kegiatan yang saya bayangkan akan menjadi lebih menyenangkan jika dinikmati bersama keluarga itu malah sering berubah menjadi kegiatan penuh keterpaksaan. Sampai berbusa-busa saya mengagumi tanaman yang tumbuh sempurna itu, yang kuncup-kuncup daunnya menggetarkan hati, yang jika besar nanti akan berjasa mengatasi pemanasan global dan semacamnya. Tetapi yang tergetar itu ternyata cuma hati saya. Hati anak-anak saya itu dingin belaka. Belum rampung saya mempromosikan tanaman ini, mereka malah sudah membuang muka dan minta pulang segera.
Begitu juga ketika keluarga kami mulai mencicil membangun rumah baru. Kesenangan saya adalah setiap kali menengok proses pembangunan rumah ini dengan sebanyak mungkin melibatkan mereka. Hasilnya jauh dari gembira. Apapun yang saya gairahkan tentang rumah ini ternyata bukan gairah mereka. Jika ada ketertarikan mereka, itupun sedikit saja, yakni yang menyangkut soal-soal mereka saja, misalnya seperti bagaimana nanti punya tiang basket, boleh mengecat kamar sendiri dengan grafiti dan semacamnya, soal-soal yang saya sama sekali tidak tertarik apalagi menyetujui.
Saya merasa, rumah baru itu nanti, lebih banyak mengasyikkan saya sendiri tetapi tidak mengasyikkan mereka dan ini membuat saya kecewa. Tetapi apakah cuma saya yang sering kecewa? Tidak. Anak-anak saya juga sering kecewa karena keterlibatan saya yang rendah pada kegiatan mereka. Putri saya amat gemar menonton film-film Disney dan kegembiraannya akan menjadi sempurna kalau saya ikut menonton bersamanya. Ia akan berteriak-teriak sedemikian rupa memanggil saya jika ada adagen yang menakjubkan hatinya. Ia ingin agar ketakjuban itu dinikmati bersama dan berkali-kali ia melengos sakit hati karena berkali-kali saya gagal memenuhi. Kalaupun saya ikut menonton, pasti sekadar karena saya ingin menyenangkan hatinya, bukan karena saya menyenangi film itu. Seluruh keterpaksaan saya ini ia tangkap dengan baik dan ia menjaga agar saya tetap di sebelahnya. Kalau saya kedapatan akan terpejam karena bosan ia malah akan membuka paksa mata saya.
Begitulah, makin beragam anggota keluarga Anda, makin beragam pula cabang dan ranting urusannya. Itu baru urusan saya dengan putri saya, belum dengan istri dan anak lelaki yang ada dan perangainya berbeda-beda. Intinya, ada ruang-ruang yang amat pribadi antara saya dan mereka dan ada ruang bersama yang kabur garisnya tetap harus jelas di mata kita, agar jelas pula kapan kita masuk kapan kita keluar dan kapan kita bersama-sama. Ada ruang pribadi yang mereka butuh sendiri dan kedatangan kita cuma gangguan belaka. Ada ruang pribadi yang mereka butuh ditemani, padahal itu bukan selera kita. Sementara ada urusan bersama yang kita harus ikhlas bersama-sama walau sebenarnya kita tak menyukainya. Begitulah keluarga, di dalamnya ada kesendirian, ada kebersamaan yang harus terjaga takarannya.
sumber : suaramerdeka.com
Minggu, 23 Januari 2011
Jatuh Bangun Bona 'Andai Aku Jadi Gayus'
VIVAnews - Nama Bona Paputungan mendadak melejit setelah video klipnya "Andai Aku Jadi Gayus" diunggah ke Youtube. Lelaki asal Gorontalo itu tampil dengan gaya mirip Gayus Tambunan, terdakwa mafia pajak bernilai puluhan milyar rupiah. Gayus membuat heboh negeri, saat dia melenggang bebas berkeliaran selama berstatus tahanan.
Di video klipnya, Bona tampil lengkap dengan wig dan kacamata ala Gayus, saat terdakwa itu plesir ke luar sel tahanan. Penampilan Bona itu membuat banyak orang penasaran.
Sebagai bekas narapidana, Bona tahu persis bagaimana kehidupan di dalam bui. Bagi dia yang kantungnya cekak, adalah mustahil bisa mengikuti gaya hidup Gayus di penjara. Gayus bisa pulang ke rumah. Bahkan plesir ke Bali, Kuala Lumpur, Singapura hingga Macau. Bagi Bona, semua itu hanya mimpi. Maka dia hanya bisa berandai-andai. Cermati saja lirik lagunya yang kini akrab di telinga.
Andai Ku Gayus Tambunan
Yang bisa pergi ke Bali
Semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi
Lucunya di negeri ini
Hukuman bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan
Tapi tak semua orang suka melihat dia bahagia. Begitu lagunya ngetop, dia sempat mendapat "teror". Lelaki yang lahir 16 Maret 1978 itu menuturkan soal ancaman itu, termasuk perjalanan hidupnya, kepada VIVAnews di Senayan City, Jakarta, Rabu 19 Januari 2011. Berikut petikannya:
Bisa ceritakan perjalanan hidup Anda?
Sekitar 1993, saya pindah ke Jakarta dari Gorontalo dan sekolah di pesantren. Saat itu orangtua bercerai dan saya ikut Ibu. Meski sekolah di pesantren, saya lebih tertarik ke dunia seni musik. Bahkan saya terjerumus ke hal-hal negatif.
Tahun 1996, Bapak saya meninggal. Hidup saya makin terpuruk. Akhirnya, saya pulang ke Kota Mobagu, Sulawesi Utara. Saya lalu pindah ke Gorontalo. Karena hidup saya sudah nggak tentu arah, Ibu menikahkan saya pada 1997. Tapi, saya masih sering mabuk-mabukan, dan pakai barang haram. Istri saya nggak tahan, tak sampai setahun dia meninggalkan saya. Saya punya satu putri dari pernikahan itu.
Tahun 2002, saya dinikahkan lagi, tapi tak ada perubahan juga. Kami bercerai. Saya makin terpuruk, tapi saya masih dipercaya teman-teman mengurus organisasi, jadi MC, dan menyanyi.
Tahun 2007, kehidupan saya mulai membaik. Tapi saya mendapat cobaan lagi, ketika mulai nyanyi di kafe-kafe, saya kembali ke kebiasaan lama saya. Saya ingat malam tahun baru 2010, saya mabuk di sebuah diskotik di Gorontalo. Saat itu saya memukul istri. Keluarganya tidak terima dengan perlakuan saya, lalu mereka melaporkan ke aparat kepolisian.
Akhirnya saya masuk penjara tanggal 3 Januari 2010. Setelah dipotong masa tahanan, remisi, dan cuti bersyarat, pada 7 Oktober 2010 kemarin saya dibebaskan. Kalau saya jalani murni, sebetulnya tanggal 5 Januari 2011 baru dibebaskan.
Bagaimana menjalani hidup selama masa hukuman?
Sangat berat. Badanku kurus karena beban pikiran. Persoalan makan juga ada, karena seenak-enaknya makanan, yang namanya di penjara kan susah ditelan. Banyak beban yang saya pikirkan. Misalnya, setelah saya bebas saya mau jadi apa, saya ini kan sampah masyarakat, keluarga makan apa? Kasihan Ibu, bapak saya sudah meninggal. Saya berdoa terus dibarengi ibadah.
Begitu ke luar penjara, apa yang dilakukan?
Ketika saya keluar dari penjara itu hidup saya susah, mengemis kiri-kanan, hidup ditertawakan orang. Saya lalu cari duit buat bikin lagu. Namanya juga baru keluar dari penjara, jadi nggak megang duit. Pernah karena tidak punya duit, saya sampai harus dorong-dorong motor yang kehabisan bensin. Saya hanya bisa berdoa, Insya Allah saya tetap sehat.
Tentang lagu Gayus?
Sebenarnya, saya sudah menciptakan 10 lagu di dalam penjara. Sesuai dengan kehidupan narapidana, judulnya ada 'Cobaan Hidup', 'Maafkan Istriku', 'Demi Kehidupan', 'Markus' dan masih banyak lagi. Syair Gayus itu sudah saya buat di dalam penjara dengan judul 'Kisah Hidupku'.
Nah, setelah saya bebas saya melihat kasusnya Gayus lagi ramai. Bukan karena aji mumpung, tapi karena pemberitaan tentang Gayus yang bisa ke Bali, bisa plesir ke luar negeri, saya jadi berandai-andai jadi Gayus. Nah disitulah syair bagian reff-nya saya ganti. Tapi tidak ada tujuan atau target apa-apa.
Syutingnya saat di penjara?
Yang di dalam penjara itu untuk 10 lagu saya. Kalau lagu 'Andai Aku Jadi Gayus Tambunan' itu tidak masuk di 10 lagu ini. Lalu itu saya kirim ke HP teman-teman lewat 3G. Lalu saya unggah di Youtube untuk di Gorontalo aja. Lalu sehari kemudian, saya kaget kok begini jadinya? Orang-orang dari stasiun televisi menghubungi saya. Diminta untuk datang ke Jakarta.
Proses pembuatan video klipnya bagaimana?
Jadi saya dibantu teman-teman pelawak karena saya juga tidak punya duit saya bilang, saya bilang tolonglah Bang, saya mau bikin klip tapi nggak punya duit, saya baru keluar dari penjara nih. Lalu mereka mengiyakan. Ya udah kita buatkan konsep, bilang ke Kalapas. Garapnya malam hari dan saya dapat pengawalan Kalapas.
Prosesnya memakan waktu 2 hari. Agak lama karena sebelumnya saya juga butuh waktu 3 hari hanya untuk mencari wig yang mirip punya Gayus. Saya sudah putar-putar ke setiap salon dan menanyakan ada nggak wig mirip punya Gayus? Dan akhirnya dapat.
Kapan video klip itu dibuat?
Buatnya tanggal 9 Januari 2011. Kemudian tanggal 11 kita lepas klipnya.
Apa yang mendasari Bona mengunggah video di YouTube?
Nggak ada. Nggak ada target apa-apa.
Sudah pernah unggah video di YouTube?
Nggak pernah.
Kaget nggak waktu tahu hasilnya?
Sampai dengan detik ini Lillahita'ala ya, Alhamdulillah teman-teman sekarang bilang, eh kau itu sudah mendunia sekarang. Saya hanya jawab, ah yang benar? Karena saya tidak pernah mengkhayal sejauh itu.
Bagaimana respon dari orang-orang terdekat?
Keluarga sudah merespon dan teman-teman juga mengarahkan untuk tetap ada generasi penerus Iwan Fals, jadi mereka berharap agar saya tidak menyanyikan lagu cinta (Bona tertawa). Nggak mungkin, saya kan suka lagu cinta.
Komentar istri bagaimana?
Istri Alhamdulillah sehat dan baik-baik saja. Kami komunikasi terus. Anak saya ada tiga orang dari tiga istri, jadi satu istri satu anak.
Setelah lagu ini 'booming' ada rencana apalagi?
Saya akan bikin lagu lagi dan memang saya sedang sharing ke teman-teman. Saya arahnya mau kemana, karena saya suka lagu cinta tapi mereka bilang jangan bikin lagu cinta.
Merasa berubah nggak setelah terkenal?
Alhamdulillah saya tetap seorang mantan narapidana.
Kabarnya Anda sempat mendapat teror karena lagu Gayus?
Kalau tentang teror, kemarin itu memang ada tapi semua saya kembalikan ke Allah karena itu adalah cobaan.
Terornya seperti apa?
Si peneror nanya lagu ciptaan saya, nama lengkap saya, dan dia bilang 'keluarga kamu dan kamu akan saya comot, akibat kamu sudah membuat lagu yang menghebohkan nusantara'.
Diteror lewat apa?
Via telpon pas saya lagi diwawancara sama dua stasiun televisi. Karena telepon berdering terus, ya sudah saya angkat. Jadi sempat terekam. Suara penelponnya laki-laki.
Berapa kali diteror?
Satu kali.
Bagaimana sikap Anda setelah mendapat ancaman seperti itu?
Saya manusia biasa, jujur, takut, diancam 'awas kalau keluar rumah saya pukul kamu' gitu saja takut, apalagi ini kasus orang yang sangat berpengaruh kan? Saya cuma bisa berdoa. Yang kedua karena sebelum kejadian teror, saya sudah terlanjur ngomong di stasiun televisi bahwa saya akan ke Jakarta. Jadi cukup dijalani dan ditepati saja.
Keluarga ikut khawatir?
Iya, cuma saya bilang tidak usah khawatir kita kan punya niat baik. Lalu ibu saya mengizinkan dan berpesan jangan lupa ibadah.
Gayus baru divonis 7 tahun, ada tanggapan?
Saya hanya bisa berdoa saja, bagaimanapun Gayus manusia biasa kalau dia terbukti bersalah itu merupakan kekhilafan seorang Gayus. Apapun yang menjadi vonis hukuman untuk Gayus itu semua sudah takdir dari Allah, jadi Gayus mau divonis berapapun, menurut saya ikhlaskan saja.
Apakah hukumannya sudah setimpal?
Kalau itu saya no comment deh, pokoknya kita serahkan ke jalur hukum saja. Yang jelas sebagai anak bangsa kita ingin mengharapkan perubahan agar negeri ini lebih baik lagi.
Minggu, 12 Desember 2010
Hasrat Penumpukan
Sudah sejak saya kecil sebetulnya keadaan tak henti mengajarkan, betapa tidak berartinya sebuah penumpukan. Naluri penumpukan pertama yang saya ingat ialah ketika pertama kali saya belajar berpuasa.
Semua jenis makanan rasanya ingin saya kumpulkan, saya sembunyikan untuk saya makan sendiri. Untuk itu, saya malah merasa perlu memilki semacam bunker perlu juga dengan cara sembunyi-sembunyi. Bunker saya itu harus penuh sekaligus harus tetap jadi tempat misteri.
Apa saja makanan yang saya temui saya simpan di sini. Apa saja, karena bagi perut lapar, semua jenis makanan terasa lezat sekali. Sebentar-sebentar bunker rahasia ini saya datangi, aneka makanan itu saya pandangai untuk saya saja), apa yang sanggup saya makan ternyata cuma sedikit saja.
Cukup dengan makan sebagian saja saya sudah telentang kekenyangan. Setelah sebelumnya lemas karena kelaparan, saya segera lemas oleh kekenyangan. Saat itu, diam makan, ternyata apa yang disebut makan itu hanya secepat itu, hanya sesingkat itu dan sesederhana itu.
Seluruh kegaduhan itu ternyata selesai cukup hanya dengan beberapa suapan. Rasanya malu sekali mengiba-iba minta diperbolehkan menyantap seluruh makanan tetapi cukup dengan minum beberapa tegukan, saya sudah kekenyangan yang cuma sebegini, harus ditebus dengan keganasan seperti ini.
Tak perlu seluruh makanan sebanyak itu, tak perlu bernafsu menjadikan seluruhnya menjadi harta karun pribadi, karena yang dibutuhkan ternyata cuma sebatas itu. Tapi lagi-lagi, jika kelaparan datang lagi, akal sehat saya seperti terbang lagi. Kekeliruan demi kekeliruan yang sama terus saya peragakan berulang-ulang hingga hari ini.
Kini, setelah saya bukan anak kecil lagi, puasa saya memang telah mampu genap sehari. Bunker rahasia itu memang tak ada lagi. Kebiasaan mengumpulkan makanan memang tak lagi saya lakukan. Tetapi apakah berarti saya sudah menjadi kuat di hadapan kelaparan? Rasanya tidak.
Apalagi makin bertambahnya usia, malah makin banyak saja jenis kelaparan yang saya derita. Ada lapar karier, lapar popularitas, lapar perhatian, yang ada di dunia saya ini.
sumber : suaramerdeka.com
